anjing-anjing disekitarku

anjing-anjing disekitarku
anjing-anjing yang suka menggonggong dan menjulurkan lidah sambil meneteskan ludah
mereka mengguguk-guguk secara berkala
tanpa kata dan kalimat yang dapat dimengerti kecuali serakah…
karena demikianlah anjing-anjing yang ada disekitarku
mengguguk setiap waktu mencari tulang belulang yang dapat mengenyangkan perasaan sebagai anjing…

engkau yang masih bersama air

engkau yang saling bergenggaman menyelesaikan debu

menyingkirkan noda-noda

pada lembar-lembar anyaman benang

semestinya engkau sebagai emas

dan dibaluti bongkahan-bongkahan senyum dalam kediaman hatinya

tapi engkau hanya sepintas lalu

karena engkau bukanlah seperti raja dan ratu

yang setiap waktu membungkus waktu-waktu dengan mutiara kualitas istimewa

engkau yang selalu bersama suara-suara kaca dan gelas

juga lembab pakaian karena keringat

engkau bukanlah bahan cerita yang disampaikan dengan senyum dan rasa haru bangga

engkau hanyalah sebuah anggapan rasa pegal dan linu serta sesak dalam dada

WARNA-WARNA HIDUP

Hidup ini seperti apa warnanya sudah tidak dapat ditebak dan ditentukan lagi. Bukan berarti aku buta warna. Tapi memang dasar, warna yang sering aku temui suka asal-asalan juga menipu. Lantas mau apa? Mau protes. Mau marah. Sama siapa?
Mau menyerah? Itu sama saja enggan untuk hidup lagi, jadi mending tidak perlu lagi jadi makhluk hidup. Jadi benda mati saja. Batu. Pasir. Karang. Atau apa saja yang tanpa nyawa. Atau jadi sampah.
Tapi kalau begitu akan rugi. Karena benda mati tidak bisa jatuh cinta. Bagaimana bisa jatuh cinta kalau hati saja tidak punya. Boro-boro hati, nyawa saja tidak ada. Ya, namanya juga benda mati. Tidak bisa apa-apa, kecuali dengan bantuan makhluk yang bernyawa.
Tapi ada makhluk hidup yang bisa jatuh cinta sama menda mati. Yang herannya lagi bisa sampai tergila-gila dan benar-benar gila.
Kalau dilihat begitu artinya jadi benda mati enak juga. Bisa digilai, bisa disintingi. Tapi biar bagaimanapun tetap saja benda mati itu mati. Biarpun terkenal tidak bisa apa-apa.
Mana ada film atau sinetron yang bintang utamanya benda mati.contohnya sinetron anu dengan pemeran utama seonggok bebatuan kali. Ah bisa- bisa si pembuat film yang dibilang otak batu.
Yah, kalau begitu cukuplah. Cukup yang mati itu mati dan yang hidup itu hidup. Soal warna hidup tidak perlu dipusingkan bahkan kalu bisa kita tambah warnanya dengan yang lebih nyata dan tidak samara-samar apalgi menyamar.
Soal apa nama warnanya tidak perlu dipusingkan, toh nama akan muncul seiring dengan adanya pengakuan.
Tinggal bagaimana mengaduknya hingga bisa akrab dengan warna-warna yang sudah ada.

hati yang dirimbuni ke-khusyuk-an

Ke mana saja engkau pergi?
Bukankah sekarang waktunya kembali
Masuk ke rumah sebagai yang ingin istirahat

Sebab di luar begitu mendebarkan
Akan semakin banyak yang menyebabkan jalanmu terhimpit
Lalu engkau semakin tidak percaya
Mengapa ada yang seperti ini
Dan engkau tidak menjadi bagian
Ooh..
Aku terkapar tidak percaya
Mengapa aku mendebarkan
Mengapa aku belum berangkat
Berangkat menuju rumah mu
Dalam hati yang dirimbuni ke-khusyuk-an….

Aku kabar-kabar dan aku berita-berita

aku adalah kabar-kabar
yang suaraku dapat terdengar seperti hujan semusim
dan aku adalah berita-berita yang dapat dibaca seperti membaca surat kabar terbaru pagi ini…
tapi dalam mencari kabar dan mencari berita aku kehabisan bahan
karena moment-moment dan peristiwa-peristiwa tak ada ragam lagi
semuanya sama
: Tentang kekacauan dan kesombongan..
jadi buat apa aku mencari kabar dan berita lagi?
cukup cerdaskan imajinasi dalam mengukir-ukir kata jika ingin memberi kabar dan berita untuk esok pagi
bukankah kabar dan beritanya selalu saja sama kawan?
Huh..!!seperti tidak ada kabar berita yang lain saja……

aku selalu tersenyum dalam nafasmu…

dedicated to my lovely wife…….

degup jantungnya ada dalam perjalananku

karena sekarang dalam setiap aktivitasku selalu dialamatkan untuknya

sebagai yang telah mendampingi

dia adalah sahabatku dalam nafas dan dalam hati…

dalam langkah dan dalam kedipan mata…

aku selalu ada dalam langkah menjadi bagian hidupnya….yang terbaik…

tanpa penyangkalan, suka atau duka susah atau senang…

dialah senyumku

dia juga kegembiraanku

dialah embun pagiku

dia pula yang menjadi purnama manakala malam tanpa penghuni lagi

dan dia pula yang menjadi penghalau mendung-mendung serta keterikan

waktu…

aku selalu tersenyum dalam nafasmu….

selamat mencoba diriku…..

apa yang aku upayakan
adalah agar hatimu memihak kepadaku
tapi begitu sulit…
hatimu sudah memilih mereka sebagai kebanggaanmu…
karenanya
kebaikan2 yang aku upayakan hanya lewat sebentar dihatimu dan tidak mengusik atau mempengaruhi penilaianmu terhadapku
begitupun kesalahan2 yang mereka perbuat,
hanya laku yang numpang lewat di hatimu..
sesungguhnya, mereka telah begitu dalam menjadi kebanggaanmu…
dan aku terasa begitu sulit menempatkan diri dalam hatimu sebagai kebanggaanmu..
tapi aku masih berupaya
mencari jalan mencari segala bentuk-bentuk
sehingga aku dapat engkau hitung sebagai kebangganmu
tanpa perselisihan….
selamat mencoba diriku….

benarkah demikian???

Menyembur di dalam nafas tapi tidak sampai mencekik.
Hanya lunglai lalu buat aku berkeringat -menggigil.
Seberapa luasnya rentangan waktu agar aku bisa terlegakan,
atau waktu hanya pura- pura datang untuk menunjukkan bahwa aku tidak bisa apa- apa meskipun sudah menjerit kesakitan.

Apakah aku masih waras?

Aku sudah berusaha mencari rumahmu
Dengan segenap senyum serta degupan di dada
Tapi dalam setiap pencarianku itu
Tidak pernah aku menjumpai rumahmu
Meskipun tanpa henti aku sudah menoleh ke kiri atau ke kanan
Sambil berharap pada pagi hari yang muda
Aku melihatmu sedang memetik embun di taman rumahmu
Atau ketika sore hari yang renta
Aku mendapati dirimu sedang tergesa-gesa mengemas cahaya matahari
yang kelelahan, berserak tanpa aturan di samping rumahmu
Tapi sayangnya,
Pencarianku selama ini sia-sia
Yang aku temukan hanya
Senyum yang terkoyak
Tubuh yang melayang
Rambut yang pecah-pecah
Serta hati yang ragu-ragu
Bahwa mengambil sebuah keputusan terbaik bukanlah pekerjaan yang mudah
Karena terkadang dianggap tidak waras karena keputusan yang diambil….

jatuh sebagai hujan

ketika aku menari di awanmu
aku lantas menjadi hujan-hujan bulan Desember
hujan-hujan yang lantas membasahi keringnya tanah didalam hati
tetapi aku terlalu menjadi hujan
ketika jatuh ke tanah aku menerpa bebatuan…
aaahh
syukurlah aku hanya pura-pura menjadi hujan
yang setiap jatuh selalu memercik dan menggenang
dan meski jatuh hujan tidak menjadi luka…
dan aku pun begitu, menjadi hujan dan jatuh tapi tidak terluka melainkan menggenang
menggenang ke dalam hatimu
sebagai kerinduan…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.