???????????????????

mendaki….mendaki…..mendaki…..
aku dalam lingkaran terjal…..
………………………………………………………………………………………….

hati nurani…

Suatu ketika, ketika aku beranjak dewasa, ketika aku mulai mengenal jatuh cinta, orang tuaku berpesan, bahwa sudah saatnya aku menjelajahi alam. Mengembara mengenal perangai dan watak mengenal adab dan tata karma, yang kesemuanya diberi judul hati nurani oleh kedua orang tuaku. Jadi mereka berpesan, mengembaralah lalu kenali hati nurani dan bagaimana menggunakannya.
Aku yang buta huruf, [...]

jangan lupa menghitung aku

Sampai batas ketika aku dapat dikatakan ada.
Ada diantara tempatmu duduk, berdiri, tertawa dan bercengkrama.
Ada diantara temanmu, kerabatmu, keluargamu, serta musuh-musuhmu.
Bahwa aku masih bisa mencuci piring dan pakaian, masih bisa makan dan minum, masih bisa menanam dan merawat kembang, masih bisa menilai seberapa baik tingkah lakumu dibanding aku.
Aku  masih bernafas.
Dan aku masih [...]

menjadi engkau

Aku menjadi engkau manakala aku tetap aku dan manakala aku selalu beku.
Dengan aku menjadi engkau, aku berharap dapat ke segala arah.
Sehingga tanganku bisa berkilau, akibat aku menjadi engkau.
Dan lihatlah, begitu berkilau bukan?
Tapi aku menjadi engkau dengan aku tetap aku.
P  e  n  a  t  !

peringatan!

Kita tidak bisa tertidur nyenyak  dalam perjalanan manakala jalan yang  dilewati berlubang. Begitupun aku, tidak bisa tenang dalam mencintaimu ketika tahu jalan menuju hatimu sedang dalam perbaikan,
”…hati-hati, banyak tikungan tajam dan berlubang…!”

yang akhirnya didapat

Buku catatanku sudah penuh. Dengan rumus-rumus, metode-metode, hitungan juga teori-teori. Dengan Socrates, Plato juga filsuf perempatan jalan. Dengan Mozart, Marty friedman, Diego Modena serta bocah-bocah pengamen jalanan.
Semuanya aku salin dari papan tulis serta penjelasan-penjelasan. Aku baca di toko-toko buku, perpustakaan atau pedagang buku loakan. Di toko-toko kaset yang resmi atau pedagang bajakan sekalipun.
Seluruhnya harus [...]

kebanggaan itu

Listrik padam.
Malam kelam.
Hening.
Ada lilin.
Dan aku masih dapat melihat tanpa harus meraba.
Ada cahaya. Ada bayang- bayang.
Bayang-bayang tentang waktu yang hampir selalu sama. Waktu di mana aku harus kehilangan kebanggaan ketika engkau tinggalkan aku tanpa perasaan. Dan akhirnya hingga sekarang tidak ada lagi yang secara mesra menyebutku lelaki pemberani. Engkau satu- satunya, [...]

………………..

Menyembur di dalam nafas tapi tidak sampai mencekik.
Hanya lunglai lalu buat aku berkeringat -menggigil.
Seberapa luasnya rentangan waktu agar aku bisa terlegakan,
atau waktu hanya pura- pura datang untuk menunjukkan bahwa aku tidak bisa apa- apa meskipun sudah menjerit kesakitan.
 

…………………

Engkau menggerai cerita
dan bahwa gemerincing waktumu adalah untuk kutangkap.
Tapi ada yang engkau lupa, tanganku sedang terjerat.
Aku tanpa daya  untuk itu.
 
 

engkau akan aku cari

Jika kelak musim sudah berganti, aku ingin mencarimu, mengajakmu merenangi musim yang baru. Entah musim itu apa namanya, aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apakah di musim yang baru itu nantinya ada hujan, matahari, taman bunga atau kesegaran-kesegaran. Semuanya bukan kepastian.
Tapi aku akan mencarimu, hanya bukan sekarang. Dalam musim seperti ini aku tidak yakin [...]