Suatu ketika, ketika aku beranjak dewasa, ketika aku mulai mengenal jatuh cinta, orang tuaku berpesan, bahwa sudah saatnya aku menjelajahi alam. Mengembara mengenal perangai dan watak mengenal adab dan tata karma, yang kesemuanya diberi judul hati nurani oleh kedua orang tuaku. Jadi mereka berpesan, mengembaralah lalu kenali hati nurani dan bagaimana menggunakannya.
Aku yang buta huruf, buta pergaulan, dan barangkali juga buta masa depan menjadi bingung sekaligus terkejut. Bingung dengan maksud kedua orang tuaku serta terkejut akan permintaan untuk menjelajah. Apakah orang tuaku tidak takut dengan anak satu-satunya nantinya akan tersesat atau barangkali lenyap? Tapi walau bagaimana aku juga maklum dengan keinginan orang tuaku . tapi yang jadi permasalahannya Apa itu hati nurani.
” Apakah hati nurani sejenis tumbuh-tumbuhan?”tanyaku ketika itu dengan lugunya.
Bundaku tersenyum,
“Itulah akibat kalau kamu terlalu sering berada di hutan, kebun dan sawah.tidak pernah bergaul,”.
”Karena itu kami menyuruh kamu merantau agar kamu bisa menjelaskan kepada kami tentang apa itu hati nurani” lanjutnya lagi.
” Kita sama-sama belum bisa memastikan apakah ia tumbuh-tumbuhan, apakah ia binatang buas atau ia temannya hujan yang dapat menyuburkan tanaman kita.” Kali ini ayahku yang berkata.
Aku bengong, ternyata kedua orang tuaku juga tidak tahu.
Tapi diam-diam, dalam hati aku berharap bahwa hati nurani itu adalah seoarang perempuan. Ah, aku nampaknya akan mendapat jodoh, pikirku. Dan orang tuaku akan segera mendapat menantu. Kira-kira seperti apa ya hati nurani itu?
……………blank….blank…..blank………
Sewaktu akan berangkat, selepas saling berpelukan dengan tak lupa saling meneteskan air mata—karena inilah perpisahan itu—aku membisikkan sesuatu,
“bunda..sepertinya hati nurani itu adalah perempuan..”
“bagaimana kamu bisa tahu anakku?”jawab bunda.
“ini..”tangan bunda kugapai lalu kuletakkan di dadaku.
“apa maksudnya?” bunda menjadi tidak mengerti.
“bunda merasakan debaran dadaku kan?” bundaku hanya bisa saling berpandangan, lantas mengangguk.
Lalu aku melanjutkan lagi,”kata ayah, sebelum ia wafat dulu, ia pernah berkata, hati kita akan berdebar ketika akan menemui orang yang kita cintai.sekarang hatiku berdebar.”
Tidak ada tanggapan, hanya mata yang masih berkaca-kaca, dan bahwa pengembaraan ini telah di mulai.
“tapi yang pasti kamu harus mencari tahu apa itu hati nurani, lalu bawa ia kepada bunda,”
Selepas senja, ini tempat pertama yang aku temui. Sedikit gerimis, tapi aku sudah terbiasa dengan udara yang lembab atau dingin. Disekitarku ramai orang-orang yang tidak satupun aku mengenalnya. Yang aku tahu mata mereka mengarah kepadaku. Ada yang melihat sepintas, ada yang hanya melirik, tapi kelihatannya lebih banyak yang melotot. Barang kali inilah yang disebut pandangan keheranan atau mungkin cibiran? Ah, aku tidak trahu apa itu.
Aku hampir lupa gara-gara melihat pemandangan yang tidak pernah aku lihat sebelumnnya.aku harus bertanya hati nurani kepada mereka. Diantara sekian banyak orang ini barangkali ada yang mengenalnya.
Kebetulan ada seorang wanita yang sedang berdiri sendirian di dekat pintu masuk sebuah café. Aku mendekat. Terdengar suara tawa-tawa genit, cekikikan, gelak yang hebat, juga desahan. Terdengar juga suara dentuman musik, yang diikuti goyangan serta dansa atau apapun nama goyangnya.
“apa kamu tahu hati nurani?”aku bertanya kepada wanita itu.
Tapi nampaknya wanita itu bengong, bahkan sedikit bingung. Lantas aku mengulang pertanyaanku beberapa kali, sampai akhirnya wanita itu menjawab,”ya tergantung, kamu maunya yang short time atau long time?”.
Giliran aku yang tidak mengerti maksudnya.”..hati nurani..kamu tahu?”aku berkata lagi.
“terserah. Tapi sebaiknya di hotel, saya tahu hotel yang nyaman dan aman,”
”hati nurani? Kamu mengenalnya?”aku mengulang lagi.
“short-time? 300 ribu, bagaimana? Itu sudah murah kok. Kalau minta yang lebih murah lagi cari saja yang lain.”
Tangan wanita itu menggelayut dipundakku. Aku gemetar. Aku berdebar. Apakah aku jatuh cinta?karena aku berdebar. Tapi mana hati nurani?
“bagaimana?”suara wanita itu terdengar parau dan mendesah ditelingaku.
Tapi yang aku sadar, kakiku sudah membuat langkah lalu menjauh dengan dada yang sangat berdebar—berarti aku sangat-sangat jatuh cinta–
“eh, kalau nggak punya uang bilang. Jangan pake sok nawar lagi,”
aku mendengar wanita itu berkata jengkel ketika aku tinggal pergi tanpa salam ataupun pamit.
Rasa-rasanya yang tadi bukan hati nurani, gumamku. Padahal dia wanita. Cantik dan menarik. Ah.
Hati nurani di:
-beberapa orang pegawai yang lulus sogok.
-pejabat yang menerima sogok
-pengedar-pemakai narkoba
sekitar pukul 10 pagi, aku berada di sebuah warung, dekat sebuah kantor pemerintahan. Di dalamnya ada beberapa orang dengan pakaian yang seragam. Aku pikir mereka adalah pegawai pemerintahan. Ada yang sudah menjelang poensiun, ada yang masih muda, barangkali baru saja diterima menjkadi pegawai. Obrolan mereka kelihatannya menyenangkan. Saying bahasa mereka aku tidak mengerti. Ada yang sambil menghirup kopi, ada yang serius memperhatikan papan catur, ada yang terkantu-kantuk walaupun masih pagi. Barangkali semalam begadang, pikirku. Main kartu juga ada. Sementara pelayan warung sedikit sibuk menghidangkan yang di pesan termasuk segelas kopi yang tadi aku pesan.
Aku duduk satu meja dengan bapak yang usianya kirta-kira sama dengan ayahku yang sudah meninggal,.sedangkan di samping mejaku yang bermain kartu, di hadapan mejaku sedan g maoin catur.
Aku tersenyum. Bapak itu juga tersenyum. Timbul keinginanku untuk bertanya tentang hati nurani, walaupun aku berharap hati nurani itu adalah perempuan tapi tidak slah kalau bertanya dengan bapak satu ini. Bisa jadi hati nurani itu adalh anak perempuan bapak ini.
“ee, maaf, bapak tahu hati nurani?” tanyaku dengan sedikit ragu-ragu.
“ya kalau adik mau jadi pegawai gampang. Siapkan uang nanti saya antar menemui orang yang dapat Bantu kamu”jawab bapak itu.
“jadi bapak tahu dengan hati nurani?” tanyaku lagi dengan antusias.
“tidak usah malu. Semuanya begitu. Ini adik-adik yang lagi main kartu, mereka baru lulus jadi pegawai. Lewat bapak mereka bawa uang menemui orang yang bisa Bantu,” jelas bapak itu lagi.
“ benar hati nurani itu perempuan, pak?” akun semakin bersemangat.
“sekitar 20juta sampai 30juta. Itu minimal. Kalau mau jaminan lulus tentu harus adik siapkan yang lebih besar dari yang lain. Gampang kan.tinggal tergantung sama uang.” Bapak itu lantas menghisap rokoknya, lama baru asapnya dikepulkan. Kemudian melanjutkan lagi,” hidup itu uang dik. Kamu tidak akan tersesat atau tehalang apa-apa kalu ada uang. Itu prinsipnya,”
aku sedikit gembira mendengar jawaban bapak ini. Ah, akhirnya hati nurani itu akan dapat aku temui. Dan ia benar perempuan.
“bapak bisa mengenalkan saya dengan hati nurani?” penasaranku semakin bertambah dan aku seperti tergesa-gesa ingin sesegera mungkin menenmui hati nurani.
“oo, tentu saja. Saya bisa atur itu. Yang pasti, kamu tinggal menyiapkan uang yang bisa membuat kami menjadi pegawai, bagaimana?” bapak itu kelihatanya antusias untuk mengenalkan aku dengan hati nurani. Lalu menghidupkan sebatang rokok,
“bagaimana kalau kita pergi sekarang. Saya yakin orang yang akan kita temui sekarang masih di ruangannya. Soal uang tidak perlu sekarang, yang pasti buat dulu perjanjian sekaligus bertatap muka,”
“baik pak, baik. Sekarang tidak masalah. Saya sudah tidak sabar,”
kami meninggalkan warung, saya dan bapak itu. Sepanjang perjalanan antara warung dan kantor bertingkat tiga kami saling bercerita. Tapi masalahnya, bahasa ku dan bahasa bapak itu berbeda.kami tidak saling mengerti. Mengherankan artinya kalau kami bisa sepakat dengan obralan yang tidak berkaitan.
aku bertanya tentang hati nurani kepada seoarang yang aku pikir punya wawasan luas. Lalu orang itu menjawab,” tadi baru saja lewat di depanku, ia berkaki empat, berbulu, lidah terjuntai dengan ludah yang meleleh. Ia menggonggong”
“ ah, itu anjing” jawabku.” Ya, sejenis itulah” orang itu kembali menjawab.
DIarsipkan di bawah: cerpen





hati nurani harus dikenal terus menerus, sekalipun kita sudah mengenalnya.
Suatu ketika aku berjumpa dengan hati nurani yang berupa anjing itu. Dan, kutanya, hai hati nurani mengapa kau jadi anjing?
Jawabnya: karena makhluk yang dititipinya lebih buruk dariku.