Seharusnya aku tidak di sini. Menungumu dalam kebosanan. Aku juga seharusnya tidak terlalu percaya dengan janji-janjimu. Janjimu yang dilumuri gula, janjimu untuk datang tepat waktu. Tapi aku begitu bodohnya, terlalu lemah terhadap janji, akibatnya aku mondar-mandir dalam kebosanan. Menunggumu yang entah kapan datang menampakkan muka, memenuhi janji.
Memang, kemungkinannya bisa jadi engkau masih di tempat kerja, sambil terburu- buru menyelesaikan tugas kantor agar bisa datang tepat waktu memenuhi janji yang telah kita sepakati. Bisa juga engkau masih terjebak kemacetan sambil menggerutu karena diburu waktu dan keringat memandikan tubuh wangimu. Atau engkau sekarang sudah berada di rumah, sedang mandi sambil bernyanyi. Lalu berdandan di kamar memakai alat kosmetik yang baru saja engkau beli di kantor–ada teman yang menjualnya secara kreditan. Engkau sudah wangi dan cantik dan siap pergi menemuiku, tapi mendadak ada telpon bahwa pekerjaan di kantor yang tadi engkau kerjakan terburu-buru ternyata hasilnya juga terburu-buru, acak-acakan dan harus diperbaiki segera.
Tapi semuanya baru tebakan. Karena aku sedang menghibur diri dalam menunggu. Bagaimana kalau ternyata engkau sekarang sedang berada di café bersama seseorang yang lebih engkau pilih daripada menemuiku?
Aku masih menunggumu. Di bawah awan- awan yang sekarang menggumpal hitam dan sewaktu-waktu bisa melemparku dengan guyuran hujan . Kembang- kembang sudah mulai kehilangan wangi akibat matahari yang begitu serakah terhadap aroma yang sedap, bahkan ada yang terlanjur layu karena tak sanggup lagi menjadi bunga. Tapi semua demi janji, bahwa dengan menjadi bunga akan membuat yang hampa menjadi terwarnai. Ah, bungapun ternyata mengerti dengan janji. Bagaimana denganmu?
Engkau pasti tahu bagaiman penatnya duduk seharian hanya demi menunggu seseorang yang membuat jantungku berdebar. Berlama-lama duduk, pantat terasa panas dan kesemutan. Engkau lebih berpengalaman duduk seharian, sebab sejak masuk hingga pulang kantor, duduk adalah aktifitasmu. Dengan setumpuk kertas kerja dan computer. Engkau sangat bosan. Begitu keluhanmu suatu waktu.
Tapi aku tetap menunggumu, di suatu sore yang sudah layu. Bersama burung-burung yang bergegas pulang karena janji, bersama angin yang menggoda setumpuk celah waktu. Sepertinya aku setia dan benar- benar menghargai janji, walaupun sebenarnya hatiku menggerutu. Apakah aku bodoh, atau aku terlalu takut engkau tinggalkan? Padahal engkau sekarang entah di mana, sedang melakukan apa. Mungkin juga sedang tertidur lelap…………………………….Lanjutkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnn!!!!!!
DIarsipkan di bawah: cerpen





sabarrrr…..
sabbaarrrr……….