Hubungan tingkatan pendidikan dengan pemikiran atau pemahaman agama pada umat beragama di Indonesia

Nilai – nilai kebenaran yang semakin hari sudah semakin terkikis, nampaknya sudah ditakdirkan untuk menjadi sebuah dilema di mana terjadi penyimpangan pemikiran, bahwa kecenderungan merasa dalam keabadian dan kecenderungan merasa akan segera musnah.
Hal ini didasari oleh sikap-sikap yang saling kontradiktif antara satu dengan lainnya. Sikap inilah yang kemudian mengarah kepada penghambaan kepada sang pencipta di satu sisi serta pembangkangan terhadap sang pencipta pada sisi lainnya.
Mengapa sampai sikap – sikap ini dapat terjadi meskipun tidak lagi berada di era jahili dan juga sudah mendapat tingkat pendidikan yang tinggi? Ternyata sikap – sikap pembangkangan terhadap sang pencipta tidak mempunyai pengaruh apa – apa terhadap era modern atau pun tingginya latar pendidikan. Hal ini dapat kita lihat dan perhatikan pada masa sekarang di mana ada saja orang yang hidup dan lahir di era yang modern serta mendapat tingatan pendidikan yang tinggi bahkan bergelar profesor ternyata tetap saja rentan untuk membangkang kepada ilahi. Ini menunjukkan ternyata pendidikan dan pemikiran ternyata dapat saling bertolak belakang, dalam artian seseorang yang berpendidikan rendah bisa dan ada yang menjadi hamba Tuhan yang taat, sebaliknya seseorang yang berpendidikan tinggi justru lebih gampang menentang atau membangkang dari Tuhan dengan argumen yang dianggapnya ilmiah dan dapat dijadikan bahan-bahan penemuan dan kemajuan pemikir-pemikir modern.
Padahal, hal seperti ini adalah hal utama dan yang paling berdampak mengacaukan keimanan serta mengusik keinginan manusia untuk melakukan perubahan tingkat keimanan. Mengingat orang yang berada pada jenjang pendidikan tinggi dijadikan simbol kepintaran umat manusia yang tentu saja dianggap memiliki pemikiran yang serba benar
Ternyata untuk menjadi orang yang menghamba kepada Tuhan tidak mutlak harus berpendidikan tinggi, melainkan bgaimana caranya agar pendidikan dapat saling menopang dengan prilaku keberagamaan individu………..

2 Tanggapan

  1. Ya nggak seperti itu juga bos!

    Pendidikan malah memungkinkan seseorang untuk dapat memahami agama lebih baik. Contohnya di Agama Islam, banyak bertaburan di dalam kitab sucinya, kata “Wahai orang yang berfikir”. Bahkan di dalam wahyu pertama yang diterima rasulnya adalah dimulai dengan kata “Bacalah”.

    Salam Brrrrr celetukan!

  2. masalahnya pendidikan agama belum dikemas dalam bentuk pendidikan afeksi. pendidikan agama baru sebatas pengetahuan. wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.