WARNA-WARNA HIDUP

Hidup ini seperti apa warnanya sudah tidak dapat ditebak dan ditentukan lagi. Bukan berarti aku buta warna. Tapi memang dasar, warna yang sering aku temui suka asal-asalan juga menipu. Lantas mau apa? Mau protes. Mau marah. Sama siapa?
Mau menyerah? Itu sama saja enggan untuk hidup lagi, jadi mending tidak perlu lagi jadi makhluk hidup. Jadi benda mati saja. Batu. Pasir. Karang. Atau apa saja yang tanpa nyawa. Atau jadi sampah.
Tapi kalau begitu akan rugi. Karena benda mati tidak bisa jatuh cinta. Bagaimana bisa jatuh cinta kalau hati saja tidak punya. Boro-boro hati, nyawa saja tidak ada. Ya, namanya juga benda mati. Tidak bisa apa-apa, kecuali dengan bantuan makhluk yang bernyawa.
Tapi ada makhluk hidup yang bisa jatuh cinta sama menda mati. Yang herannya lagi bisa sampai tergila-gila dan benar-benar gila.
Kalau dilihat begitu artinya jadi benda mati enak juga. Bisa digilai, bisa disintingi. Tapi biar bagaimanapun tetap saja benda mati itu mati. Biarpun terkenal tidak bisa apa-apa.
Mana ada film atau sinetron yang bintang utamanya benda mati.contohnya sinetron anu dengan pemeran utama seonggok bebatuan kali. Ah bisa- bisa si pembuat film yang dibilang otak batu.
Yah, kalau begitu cukuplah. Cukup yang mati itu mati dan yang hidup itu hidup. Soal warna hidup tidak perlu dipusingkan bahkan kalu bisa kita tambah warnanya dengan yang lebih nyata dan tidak samara-samar apalgi menyamar.
Soal apa nama warnanya tidak perlu dipusingkan, toh nama akan muncul seiring dengan adanya pengakuan.
Tinggal bagaimana mengaduknya hingga bisa akrab dengan warna-warna yang sudah ada.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.