Dia dan aku. Diatapi awan-awan yang terkulai dan matahari yang hampir rebah. Dengan cuaca yang tidak ganas, duduk seperti pengantin di pelaminan. Berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan. Dia dan aku seringkali mengawaki angin-angin musim kemarau. Mengisi cuaca menapaki musim-musim. Menjelajah dari usia ke usia. Lebih sering meluncur ke jurang ketimbang menyertai angin menjemput wewangian ketika bunga-bunga mekar [...]
Filed under: cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »




