dalam doaku

sudah aku tulis namamu
di dalam doa-doaku
lalu doa-doa itu aku kirimkan kepada Tuhan
lengkap dengan airmata,senyum,malu  serta kerendahan diri
dalam doa-doaku itu
aku tidak lupa merasa cemas
karena ada namamu yg kusebut dalam doaku
Tuhan, dekatkan ia sedekat-dekatnya
sama halnya dengan kedekatan antara cuaca dan musim
saling mengait….

anjing-anjing disekitarku

anjing-anjing disekitarku
anjing-anjing yang suka menggonggong dan menjulurkan lidah sambil meneteskan ludah
mereka mengguguk-guguk secara berkala
tanpa kata dan kalimat yang dapat dimengerti kecuali serakah…
karena demikianlah anjing-anjing yang ada disekitarku
mengguguk setiap waktu mencari tulang belulang yang dapat mengenyangkan perasaan sebagai anjing…

engkau yang masih bersama air

engkau yang saling bergenggaman menyelesaikan debu

menyingkirkan noda-noda

pada lembar-lembar anyaman benang

semestinya engkau sebagai emas

dan dibaluti bongkahan-bongkahan senyum dalam kediaman hatinya

tapi engkau hanya sepintas lalu

karena engkau bukanlah seperti raja dan ratu

yang setiap waktu membungkus waktu-waktu dengan mutiara kualitas istimewa

engkau yang selalu bersama suara-suara kaca dan gelas

juga lembab pakaian karena keringat

engkau bukanlah bahan cerita yang disampaikan dengan senyum dan rasa haru bangga

engkau hanyalah sebuah anggapan rasa pegal dan linu serta sesak dalam dada

WARNA-WARNA HIDUP

Hidup ini seperti apa warnanya sudah tidak dapat ditebak dan ditentukan lagi. Bukan berarti aku buta warna. Tapi memang dasar, warna yang sering aku temui suka asal-asalan juga menipu. Lantas mau apa? Mau protes. Mau marah. Sama siapa?
Mau menyerah? Itu sama saja enggan untuk hidup lagi, jadi mending tidak perlu lagi jadi makhluk hidup. Jadi benda mati saja. Batu. Pasir. Karang. Atau apa saja yang tanpa nyawa. Atau jadi sampah.
Tapi kalau begitu akan rugi. Karena benda mati tidak bisa jatuh cinta. Bagaimana bisa jatuh cinta kalau hati saja tidak punya. Boro-boro hati, nyawa saja tidak ada. Ya, namanya juga benda mati. Tidak bisa apa-apa, kecuali dengan bantuan makhluk yang bernyawa.
Tapi ada makhluk hidup yang bisa jatuh cinta sama menda mati. Yang herannya lagi bisa sampai tergila-gila dan benar-benar gila.
Kalau dilihat begitu artinya jadi benda mati enak juga. Bisa digilai, bisa disintingi. Tapi biar bagaimanapun tetap saja benda mati itu mati. Biarpun terkenal tidak bisa apa-apa.
Mana ada film atau sinetron yang bintang utamanya benda mati.contohnya sinetron anu dengan pemeran utama seonggok bebatuan kali. Ah bisa- bisa si pembuat film yang dibilang otak batu.
Yah, kalau begitu cukuplah. Cukup yang mati itu mati dan yang hidup itu hidup. Soal warna hidup tidak perlu dipusingkan bahkan kalu bisa kita tambah warnanya dengan yang lebih nyata dan tidak samara-samar apalgi menyamar.
Soal apa nama warnanya tidak perlu dipusingkan, toh nama akan muncul seiring dengan adanya pengakuan.
Tinggal bagaimana mengaduknya hingga bisa akrab dengan warna-warna yang sudah ada.

hati yang dirimbuni ke-khusyuk-an

Ke mana saja engkau pergi?
Bukankah sekarang waktunya kembali
Masuk ke rumah sebagai yang ingin istirahat

Sebab di luar begitu mendebarkan
Akan semakin banyak yang menyebabkan jalanmu terhimpit
Lalu engkau semakin tidak percaya
Mengapa ada yang seperti ini
Dan engkau tidak menjadi bagian
Ooh..
Aku terkapar tidak percaya
Mengapa aku mendebarkan
Mengapa aku belum berangkat
Berangkat menuju rumah mu
Dalam hati yang dirimbuni ke-khusyuk-an….

Aku kabar-kabar dan aku berita-berita

aku adalah kabar-kabar
yang suaraku dapat terdengar seperti hujan semusim
dan aku adalah berita-berita yang dapat dibaca seperti membaca surat kabar terbaru pagi ini…
tapi dalam mencari kabar dan mencari berita aku kehabisan bahan
karena moment-moment dan peristiwa-peristiwa tak ada ragam lagi
semuanya sama
: Tentang kekacauan dan kesombongan..
jadi buat apa aku mencari kabar dan berita lagi?
cukup cerdaskan imajinasi dalam mengukir-ukir kata jika ingin memberi kabar dan berita untuk esok pagi
bukankah kabar dan beritanya selalu saja sama kawan?
Huh..!!seperti tidak ada kabar berita yang lain saja……

aku selalu tersenyum dalam nafasmu…

dedicated to my lovely wife…….

degup jantungnya ada dalam perjalananku

karena sekarang dalam setiap aktivitasku selalu dialamatkan untuknya

sebagai yang telah mendampingi

dia adalah sahabatku dalam nafas dan dalam hati…

dalam langkah dan dalam kedipan mata…

aku selalu ada dalam langkah menjadi bagian hidupnya….yang terbaik…

tanpa penyangkalan, suka atau duka susah atau senang…

dialah senyumku

dia juga kegembiraanku

dialah embun pagiku

dia pula yang menjadi purnama manakala malam tanpa penghuni lagi

dan dia pula yang menjadi penghalau mendung-mendung serta keterikan

waktu…

aku selalu tersenyum dalam nafasmu….

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.